19 September 2011


Kesadaran akan bumi yang renta, membuat manusia berlomba menciptakan teknologi dan bahan bakar ramah lingkungan menggantikan bahan bakar fosil yang persediaannya nyaris habis.
Beragam penelitian memungkinkan CPO atau Crude Palm Oil (bahan dasar pembuat minyak goreng) kini bisa diolah menjadi bahan bakar industri dan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan (agrofuel/biofuel).
Pemerintah Indonesia mencanangkan kebijakan agrofuel pada tahun 2006, sebanyak 22 perusahaan berdiri untuk memproduksi jenis bahan bakar alternatif tersebut.
Pada mulanya pemerintah merencanakan untuk menggantikan 5-10 % penggunaan minyak fosil di dalam negeri dengan agrofuel.Akan tetapi permintaan yang tinggi mengakibatkan harga  minyak sawit melonjak tinggi – dari Rp3,8 juta per ton pada awal tahun 2007 menjadi tiga kali lipatnya di bulan Mei 2008.
Perningkatan harga ini tak lain karena saat itu Parlemen Uni Eropa telah mencanangkan, 5,75% dari bahan bakar kendaraan bermotor di sana diganti dengan agrofuel pada 2010. Pada tahun 2020, angka itu akan ditingkatkan hampir dua kali lipat menjadi 10%.
Peningkatan harga agrofuel yang sebagian besar terbuat dari minyak sawit, telah memukul Pertamina sebagai perusahaan yang ditunjuk membeli agrofuel; karena saat itu biaya produksi jauh lebih tinggi dari harga jual.
Berdasarkan kenyataan ini sebenarnya menjadi tanda tanya, mengapa LSM pencinta lingkungan begitu gencar memboikot perusahaan kelapa sawit dari Indonesia? Apa tujuan mereka sebenarnya? Apakah ada kepentingan asing bermain dibalik semua ini?
Fakta positif yang kita dapat dari kegunaan kelapa sawit.
1.      Bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil yang persediaannya kian menipis dan pemakaiannya sangat mencemari udara. Kenyataan ini seharusnya membuat para aktivis pencinta lingkungan mendukung penggunaan bahan bakar berbasis CPO.
2.      Mengingat bahan fosil yang persediaannya akan habis, di masa depan bahan bakar berbasis CPO dipastikan menggantikan bahan bakar fosil. Untuk itu, negara yang telah memiliki infrastruktur dan penghasil sawit nomor satu di dunia akan memegang peranan penting dalam percaturan dunia. Saat ini Indonesia adalah penghasil sawit nomor satu di dunia. Pertanyaannya adalah, apakah para aktivis lingkungan ini tidak menghendaki Indonesia menjadi negara besar dan diperhitungkan oleh negara2 lain karena kekayaan kelapa sawitnya?
3.      Perkebunan kelapa sawit jelas menciptakan lapangan kerja. Pertanyaan yang cukup menggelitik penulis adalah, mengapa TKI kita yang berlimpah harus dikirim bekerja di kebun kelapa sawit Malaysia dengan gaji rendah dan sering disiksa? Dengan lahan yang begitu luas, tidak bisakah kita menciptakan lapangan kerja bagi TKI kita? Sehinga tak harus menjadi jongos di negara jiran lagi, atau menjadi budak yang wajib disiksa dan diperkosa di negara Arab.
4.      Ekspor CPO pasti menghasilkan devisa bagi negara kita.
Memang tak bisa dipungkiri ada hal negatif yang selalu dibesar-besarkan LSM yang dibiayai pihak asing. Seperti orangutan yang kehilangan tempat tinggal, atau ada sebagian perusahaan yang tidak bertanggungjawab yang membuka lahan dengan membakarnya.
Namun kalau kita melihat jeli, menjadi hal aneh bila LSM Lingkungan yang didanai negara asing gencar menyerang perusahaan sawit Indonesia karena masalah kerusakan lingkungan. Padahal disisi lain ada perusahaan tambang asing yang melululantakkan Indonesia, LSM ini nyaris  tak bersuara. Lebih celaka lagi, sudah menjadi rahasia umum, kalau perusahaan tambang ini tak memberi konstribusi berarti untuk rakyat Indonesia kecuali segelintir penguasa korup.
Hal yang cukup aneh, untuk mendapatkan CPO negara2 eropa saat ini mendorong negara Afrika menanam kelapa sawit. Mengherankannya, kenapa penanaman sawit di Indonesia diganggu LSM binaan mereka?
Sebagai penutup, untuk mengontrol perusahaan-perusahaan sawit yang nakal kita mungkin membutuhkan LSM. Tapi LSM saja tidak cukup, kita membutuhkan LSM yang mencintai Indonesia, bukan LSM yang hanya mencintai dolar, agar kritik yang disampaikan adalah kritik yang bisa membangun dan bermanfaat untuk kemajuan Indonesia.
I love you Indonesia, meski saat ini dikau masih menjadi surga bagi para koruptor dan antek para penjilat dolar maupun rupiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar